Seutas Mata




Bagaimana rasanya jatuh cinta?

Bagaimana kisahnya saat itu?

Mengenai bagaimana ketika aku berpusing-ria memikirkan betapa hebat perasaan jatuh cinta.

Kala itu, kegilaan menghantuiku untuk segera lari menghentikan perasaan yang menghantui.

Aku tak nyaman namun kegilaan macam apa yang merasuki otaku membisiki bahwa hari ini sangat menyenangkan, meskipun tak nyaman.

Berada dimanakah aku? Apakah aku sedang berada di padang bunga dengan kamu sebagai serbuknya?

Seolah hati sedang bernegoisasi dengan pikiran yang menjadi tidak logis dan tak becus dalam mengatur urusan kejiwaan. Bagaimana bisa akalku dikalahkan oleh perasaan yang ditimbulkan hati atau qolbu? Kurasa otakku butuh sertifikasi training  bagaimana menjadi pemimpin yang ideal untuk seluruh organ tubuh.

Beritahu aku jika hari ini aku dibuatmu kaku membeku serta bisu. 

Ah, tak usah kamu katakan bahwa kamu tak sengaja membuatku kaku membeku serta membisu. Bukan salahmu jua menjadikanku seperti es batu dengan jantung yang berdetak bak meteor menerobos masuk planet bumi kita. 

Salahmu kah atau akalku saja yang tak bekerja baik hari ini? Ah, mungkin dia sedang sakit karena butuh asupan gizi yang baik.

Tapi, bukankah tak aneh apabila akalku yang sakit hanya disaat berdekatan denganmu saja? Bagaimana aku bisa menjadi normal saat di depanmu? Bagaimana sekiranya jika aku hanya dianggap seperti keledai yang kikuk dan berloncatan kesana kemari ketika melihat sang betina merayunya mengajak bermalam untuk meneruskan keturunan?

Keringat dingin yang mengalir saat ini membuatku mati-matian untuk menghentikannya. Aku berpikir bahwa mungkin bagaimana aku bisa menjadi gubernur DKI Jakarta dalam mengatasi banjir jika mengatasi keringat dingin saat bertemu denganmu saja aku tak mampu?


Aihh, jatuh cinta yang seutas mata. Memang terkesan menyebalkan!

(Tanpamu Aku Berharap Sembuh eps 01)


Mario Andaru

Mario Andaru

Warga sipil yang kebetulan suka ghibahin perekonomian Indonesia.

Posting Komentar