Apa kamu tahu bagaimana rasa ingin tahu menerjang kuat dan membabak-belurkan pikiranku sepanjang hari?
Mereka sangat kuat, kuat sekali layaknya para prajurit bersenapan mesin modern yang baru dibeli dari negara adikuasa, dipimpin oleh sang Jendral yang baru disekolahkan di luar negeri setelah menamatkan akademi militernya dengan IP 3.98. Nyaris sempurna!
Apa kamu tahu bagaimana cara mereka mengatur strategi untuk mengoyak-ngoyak isi kepalaku dengan kepulan-kepulan pertanyaan yang tidak dapat aku jawab sembarangan karena aku tak begitu mengenalmu secara dekat?
Ah, tidak adil rasanya jika hanya aku yang diserang oleh beberapa keping peluru yang terus dilemparkannya ke arahku, sedangkan kamu sedang tidur nyenyak di balik selimut sambil tersenyum dan nge-batin "Besok sore pengin makan nasi goreng cumi" dan membayangkan betapa lezatnya nasi goreng cumi hinggap di mulutmu yang manis itu.
Dan aku, yang masih kebingungan menemukan suatu jawaban mengenai dirimu malah bingung dan kelabakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak diajarkan di sekolah manapun. Dengan aku yang terus menerus berpikir dan mencari di internet tetap tidak menemukan suatu jawaban.
"Siapakah dirimu?"
Begitulah pertanyaan pertama yang muncul dalam benak. Bentukmu aku tahu, namun siapa yang berani-beraninya bikin hatiku ini mabuk kepayang hingga berjingkat-jingkat kegirangan saat si kelopak mata melihat wajahmu yang teduh itu?
Aku tak mengerti dan aku tak mengenalmu, namamu saja kadangkala aku lupa saat mengguyurkan air ke badan saat pagi hari, namun entah mengapa kadangkala otakku berpikir keras untuk menemukan siapa namamu pada siang hari yang aku tanyakan pada seorang teman karena malu bertanya secara langsung.
"Bagaimana bisa aku tertarik pada ronamu?"
Pertanyaan kedua yang sangat menyebalkan bin nyengiti. Saat aku bertanya pada langit-langit kamar yang datar mukanya itu saat semuanya sudah tertidur pulas.
"Hoi..hoi, mengapa aku bisa sesuka ini wahai langit-langit kamar?"
Langit-langit kamar tak menjawabnya. Jutek banget.
"Heiii jawab, dong! Mengapa aku bisa tertarik dengan orang yang tidak begitu menarik dan biasa saja saat berada di kerumunan orang banyak?"
Langit-langit kamar masih terdiam. Tak menjawab bahkan satu huruf pun untuk membantuku mencari jawaban.
Aku tengok ke sebelah kanan, melihat ada pintu kamar yang sedari tadi terdiam pasrah bersama dua engsel pintu yang selalu menemani hingga akhir hayat.
"Hoi..hoi, mengapa aku bisa sesuka ini wahai pintu kamar yang tampan?"
Pintu kamar tak menjawabnya. Jutek, oh mungkin karena gengsi dengan dua engsel pintu yang anggun menemani, daripada jawab salah mending diam seribu satu bahasa.
"Heii tidak usah meniru langit-langit kamar yang jutek. Ayo bantu aku cari jawaban. Kamu mau melihatku terkapar tak berdaya di depanmu akibat mati diterjang oleh kepingan peluru tanda tanya ini?"
Tetap terdiam.
Oh, aku lupa akan sesuatu yang tak menarik. Masih mending menarik bulu matamu.
Aku lupa kalau mereka benda mati. Pantas saja mereka tak menjawab.
Ah, ternyata aku memang sudah gila oleh terjangan peluru tanda tanya.
Baiklah para kompeni atau prajurit, terserah mau disebut apa. Kalian menang!
Dan kamu, si mata sayu dengan alis sedang yang tak mampu aku tatap lama karena takut ketahuan ngeliatin kamu sepanjang waktu, yahh bagaimana lagi, orang jatuh cinta memang selalu kalah dan orang yang di'jatuh-cintakan' pasti selalu menang.
Maka dari itu, ucapan selamat juga buat kamu.
Selamat menang!
