Dari Titik

 



Pembahasan ini bukanlah tentang mengenai bagaimana mencintai secara pasti.

Namun, bagaimana cara yang tepat untuk mencintai secara sembunyi.

Mencintai secara sembunyi hanya membuatmu luka secara perlahan, tapi serius. 

Bertitik-titik dahulu seperti tumbuhnya jamur pada kulit kayu pohon mahoni yang rindang, dikerumuni oleh beberapa burung kecil yang membangun sarang dan memadu kisah asmara, melindungi beberapa spesies yang hidup bergantung pada pohon mahoni dari panasnya mentari atau dinginnya hujan seperti dinginnya sikap seseorang yang tak berminat menyukai, ulat-ulat warna coklat jingga senja mendaki mencari dahan sebagai lalapan sehatnya, terus menyantap hingga gendut. Ya, ulat berani mengakui dan tren hidup sehat ulat justru adalah gendutan. Semakin gendutan semakin cantik kupu-kupunya, tidak seperti orang (perempuan) kebanyakan yang selalu berteriak kencang dalam hati saat melihat di timbangan naik enam kilo dalam sepekan seperti saat mendengar ibu guru mengucapkan "Hari ini ulangan dadakan, siapkan kertas kalian, soal saya bacakan!". 

Lumut-lumut hijau segar yang menarik bagi mata semut itu mengisi pohon mahoni akibat lembabnya cuaca atau iklim dunia spesies makhluk pohon mahoni. Di sela-sela lumut itulah, terkadang terdapat titik-titik jamur yang mulai tumbuh. Begitulah perasaan dalam mencintai secara sembunyi-sembunyi awalku terhadap Sheeva. Semuanya berawal dari titik.

Aku sering bertanya-tanya dalam hatiku sendiri. Seringkali tiap sedang asyik-asyiknya mengadakan konser saat sedang mengguyurkan air di badan sempat terpikirkan "Apakah aku hanya penasaran? Kurang lebih mungkin aku tidak mencintainya secara beneran."

Sesuatu yang berawal dari titik tidak menutup kemungkinan untuk tumbuh perlahan-tapi-serius. Saking perlahan-tapi-seriusnya membuat beberapa orang hobi mengamati pun dapat tidak menyadari pertumbuhan tersebut. Seperti contoh titik-titik jamur yang tumbuh di belakang dahan pohon cabai apakah kamu sempat menyadari bagaimana proses titik tumbuh dari jamur tersebut? Atau titik tumbuh dari debu-debu kecil yang hinggap di jendela atau cerminmu yang seringkali kamu tatap setiap waktu sambil bergaya seolah model dari pentas desain busana elegan, tak lupa sambil menatap dalam-dalam kulit wajah mengecek apakah ada pertumbuhan jerawat atau komedo yang bersarang, tak lupa juga turut sambil senyum-senyum menata rambut seolah-olah menghadapi pangeran tampan yang tergoda melihat gayamu. Sambil bergaya terkadang memainkan sunggingan bibir dan memainkan lidah yang memutar-mutar disekitar bibirmu, memang kamu sedang menggoda dirimu sendiri. Saat seringkali kamu bergaya seperti itu sambil ngebatin membanggakan dirimu yang begitu seksi dan eksotis, apakah kamu sadar terhadap titik-titik debu yang bersarang di cermin. Titik debu itu tidak menganggumu dalam bergaya dan menggoda diri sendiri, namun tetap saja kamu tak melihatnya. Dan ingatlah, tak melihat bukan berarti tak bisa merasakan.

Seperti titik debu yang hinggap di depan cermin kamarmu. Sering kamu tatap namun sering juga kamu tak merasakan kehadirannya. Seperti itulah caraku mencintai secara perlahan-tapi-serius. Memastikan apakah aku hanya penasaran atau cinta beneran. 

Jangan salah, cinta karena penasaran itu sama rasanya seperti saat cinta beneran. Hal yang membedakan hanya dari waktu. Cinta karena penasaran memiliki waktu relatif pendek, saat dia sudah mendapatkan apa yang dia penasarankan, entah itu pola hidup atau bagaimana cara kamu bisa menawan dan menarik hatinya, dia pergi meninggalkan dengan sejuta alasan yang tak masuk akal atau menunjukan sifat brengseknya. Pergi, tak kembali, dan berada dalam dekapan orang lain. 

Berbeda dengan cinta karena beneran, mencintai karena beneran sudah pasti bahwa dia harus turut mencintai kelebihanmu. Jika prinsipmu adalah turut mencintai kekuranganmu juga, itu adalah pemikiran yang salah. Cinta yang beneran justru tidak turut mencintai kekurangan. Kekurangan ada bukan untuk dicintai, tapi bagaimana cara kita menutupi atau memperbaiki. Lha yo mosok kalau pasanganmu memiliki kekurangan suka nyolong sandal di Masjid apa kita harus mencintai atau menerimanya juga kan yo enggak to?

Kekurangan itu ada untuk ditutupi atau diperbaiki dengan kelebihan. Jika kekurangannya ada di sifat, tutupi atau perbaiki dengan sifat lain. Misal kekurangannya medit bin pelit saking pelitnya kalau ada mbak-mbak kasir menawarkan "Dua ratus rupiahnya mau didonasikan?" dan dengan tegas dijawab "Tidak usah, jadikan kembalian. Enggak mau permen pokoknya dua ratus rupiah kepingan logam!". Nah yang seperti itu baru perbaiki. Katakan terlalu pelit itu tidaklah baik, namun terlalu tidak-pelit juga termasuk hal yang tidak baik. Maka dari itu, jadilah orang yang berada di tengah.

Jika kekurangan itu ada di fisik atau mental, seperti (maaf) cacat dan sebagainya, hal yang tak bisa diperbaiki maka kita harus menutupinya dengan talenta. Secara maksimal hingga membuatmu bangga.

Jadi, mencintai secara beneran justru sebenarnya mencintai kelebihan. Porsinya lebih banyak daripada mencintai pesonanya.  Itulah apabila kalau ada yang sempat menggombal "Aku akan menerima kekuranganmu" kui lak lambe bullshit. Manusia itu sudah ditakdirkan untuk tidak gampangan  menerima sesuatu, menerima hal yang termasuk kelebihan saja kadang tidak gampang puas. Contohnya dulu perkembangan teknologi percakapan jarak jauh hanya dapat diakses melalui telepon rumahan berkabel, karena kurang puas diciptakannya yang tanpa kabel sehingga dapat dibawa secara fleksibel, kurang puas lagi ditambah fitur-fitur lain seperti kalkulator dan mini games, kurang puas lagi diciptakannya telepon genggam berwarna, terus menerus sampai telepon genggam menjadi barang yang serbaguna dan serbabisa. Bahkan sekarang pun yang sudah serbaguna dan serbabisa saja manusia masih kurang puas kok. Padahal kan itu kelebihanmu karena mampu membeli barang canggih, begitu kok mau menerima kekurangan orang lain. Kekurangan bukan untuk dipertahankan. Maklumi, dan tutupi atau perbaiki.

Namun, tidak menutup kemungkinan juga orang yang mencintai karena penasaran bisa berubah menjadi mencintai beneran. Bisa saja! Mendapatkan apa yang dipenasarankan dan malah mencintai apa yang dipenasarankan. Semua kemungkinan itu ada. Karena tresna jalaran saka kebacut

Yang pasti, aku ingin memastikan. Dari titik ini aku mempertanyakan kepada diriku sendiri mengenai tipe cinta yang manakah dari diriku sendiri? Apakah mencintai akibat penasaran atau beneran? Aku tidak takut jika ternyata rasa cintaku akibat penasaran. Laki-laki yang mencintai perempuan karena penasaran bukan berarti dia fakboi cabang perempatan. Bisa saja kan kalau memang dirimu yang menawan dan suka bergaya di depan cermin itu mampu menarik hatinya sehingga membuatnya merasa sangat beruntung jika mendapatkan dirimu?

Dari titik aku mencoba memahami perasaan, seperti debu-debu kecil yang hinggap di cermin dan membuatmu tak sadar. Dari titik terkecil itu aku ingin menunjukan bagaimana aku mencintainya secara sembunyi. 

Ya, sepandai-pandainya capung terbang pasti akan menabrak tembok juga. Sepandai-pandainya laki-laki mencintai secara sembunyi-sembunyi pun pasti akan ketahuan juga. Resiko alami yang diberikan dunia. Mungkin ini salah satu bug di bumi dimana laki-laki memang sudah dilahirkan untuk tidak mampu mencintai secara sembunyi dengan becus.

Meskipun begitu, aku tetap harus mencoba. Resiko ketahuan pasti ada, daripada diam tak diekspresikan, bukankah akan menjadi kesalahan terbesarku saat aku tidak mencoba mengekspresikan?

Sejak saat titik ini mulai muncul, sejak saat itu pula aku mencintainya secara sembunyi, perlahan-tapi-serius hingga menjadi cinta-yang-serius.



Mario Andaru

Mario Andaru

Warga sipil yang kebetulan suka ghibahin perekonomian Indonesia.

Posting Komentar