Luisa Sheeva: Cahaya yang Mempesona

 



Luisa Sheeva

Cahaya yang mempesona

Begitulah arti nama dari seseorang yang lahir saat rasi Astron sedang berkumpul berdiskusi atau mungkin sedang mengadakan arisan bulanan.

Tidak seperti namanya, Sheeva tidak memancarkan cahaya apapun. Dia hanyalah orang biasa yang setiap hari makan nasi sayur kikil atau gado-gado depan tempat dia beraktivitas sehari-hari. Makan yang ia santap sudah pasti tidak dihabiskannya dengan bersih. Entah karena kenyang atau mungkin memang perut kecilnya tidak mampu menampung beberapa sayuran rebus yang disajikan oleh ibu-ibu warung. Seperti itu..

Sangat biasa. Bahkan prestasinya pun hanya mampu mengupas kulit kelapa lalu dijadikan serbuk santan, tidak seperti orang kebanyakan yang mampu memanjat pohon kelapa.

Sayu matanya teduh, namun pupilnya tetap fokus mengarah ke lawan bicara. Kulitnya berwarna sawo matang, tidak tahu apakah bau kulitnya seperti sawo yang manis rasanya atau bau handbody seperti perempuan-perempuan sudut kota yang selalu mengolesi lendir warna-warni itu setiap mereka terbasuh oleh air. Biar putih seperti orang Korea katanya. Namun sebagian yang lain berkata demi investasi masa depan tentang perawatan tubuh, mungkin untuk hadiah para suami mereka saat berbulan madu. 

Kulitnya sangat halus meskipun kutak tahu bagaimana baunya karena mungkin terkesan kurang sopan jika aku tiba-tiba mencium kulitnya meskipun hati ini bergejolak ingin, aku tak ingin disamakan dengan kucing yang bisa semena-mena mengendus kesana kemari. Aku adalah manusia yang saat ini memiliki tekad bulat dari bentuk persegi empat. 

Aku tak tahu apakah memang dia ini melakukan perawatan diam-diam atau memang dia tercipta sejak lahir memiliki kulit yang eksotis. Seperti halnya para laki-laki zaman modern yang malu-malu gengsi mengakui dirinya melakukan perawatan, nyinyir tentang make up, skincare, atau produk-produk kecantikan lain yang dominan para perempuan suka berbinar-binar memburunya sampai-sampai ada bentuk hati merah di kedua matanya saat ada papan dengan background kuning bertuliskan "Discount Up To 70%", tapi kalau kita mau ke kamarnya laki-laki, mengobrak-abrik isi lemari, meja, atau rak-rak buku yang disusun rapi cuma kalau tamu mau datang berkunjung, disitulah terkadang kita dapat menemukan produk-produk kecantikan skincare, skinfood, sheetmask, toner, atau yang sudah pasti adalah handbody. Minimal sabun cuci muka lah. 

"Lho sabun cuci muka kan wajar dipakai cowok? Lha wong banyak produknya, nih contohnya Barni*er MEN." sangkal salah satu diantara ribuan laki-laki yang tidak berani protes mengatakan itu padaku. 

"Itu kan sekarang, coba lihat 10 tahun yang lalu, sabun cuci muka adanya produk kecantikan yang memang ditujukan untuk pasar perempuan. Gak ada tuh embel-embel MAN MEN MAN MEN. Tetapi karena yang berjerawat, berminyak, atau kulit muka kering itu tidak hanya dialami perempuan, makanya para pabrik-pabrik yang menggaji buruh dengan standar UMR itu melakukan inovasi produk kecantikan sabun cuci muka untuk laki-laki. Disaat itu juga sabun cuci muka jadi lumrah dipakai. 

Nah zaman sekarang problem masalah kulit kan juga semakin kompleks. Tidak hanya dialami perempuan, laki-laki pun banyak yang mengalami masalah kulit. Namun saat ini tidak ada produk kecantikan penunjang yang mendukung masalah kulit laki-laki. Tidak ada tuh sheetmask atau handbody yang berlabel MAN MEN MAN MEN, itulah kenapa membuat laki-laki malu-malu gengsi memakai produk perawatan atau kecantikan. Stereotipe-nya tetap saja yang memakai produk kecantikan itu perempuan, padahal sabun cuci muka juga termasuk produk kecantikan. Apa mungkin sebenarnya laki-laki ini hanya butuh media yang mampu menghapus stereotip itu?" Jawabku menerangkan sampai para pendengar melongo bingung mau berkata.

Kembali ke Sheeva.

Oh, mungkin ada yang bertanya-tanya, apabila memang ada yang bertanya-tanya. Jika tidak ada yasudah, biarkan aku saja yang bertanya-tanya.
Bagaimanakah bau wewangian Sheeva? Unik.
Mungkin sisi itulah yang membuatku berbunga-bunga tidak karuan saat bertemu, mungkin wewangian alami yang dipancarkan dari tubuh dan keringatnya itu yang membuat hatiku manja dan otakku yang bekerja secara tidak profesional. 

Entah bagaimana rasa dari wewangian itu, berbeda daripada wewangian yang muncul dari seseorang yang lain. Sangat unik dan berkarakter. Entah menggunakan minyak yang berada dalam toko-toko yang ramai saat weekend atau menggunakan minyak alami sawit kelapa yang barusan dipakai untuk menggoreng mendoan. Atau jangan-jangan, minyak aromaterapi yang lain? Seperti misalnya minyak kasturi atau minyak wajah. Lho jangan salah, minyak wajah itu termasuk aromaterapi. Kalau bukan aromaterapi, mana mungkin cium pipi kanan dan pipi kiri menjadi perilaku favorit para manusia yang ingin mengekspresikan cinta dan dicintai? Bahkan banyak orang yang hobi cium pipi, atau sekedar ingin mencium bagaimana bau pipi orang yang dicinta di pagi hari. 

Rambutnya kutak tahu bagaimana uraiannya. Apakah keriting seperti mie instant yang suka kamu makan saat sedang males makan makanan yang ribet, atau lurus berkilau seperti impian ekspektasimu itu, atau malah diantara keduanya? Tidak tahu karena memang Sheeva menggunakan alas penutup rambut yang tidak semua orang dapat melihatnya. Hanya orang-orang beruntung dan berarti yang dapat melihat atau malah membelainya sampai tertidur pulas.

Postur tubuh yang biasa pula, tidak seperti sinden-sinden pewayangan yang suka dijadikan pertunjukan di acara-acara kecamatan yang jago berlenggak-lenggok namun tetap tegak, atau tegak sejajar lurus rata-rata air seperti pramugari yang cantik jelita yang suka kamu bayangkan ketika sedang melamun itu, atau lemah gemulai lembut seperti para penari tradisional Jawa Tengah yang suka kamu teriakin "saarr seerr saarr seerr", atau malah lenggak-lenggok menggoda iman seperti penyanyi dangdut yang suka ditonton "hoo..haa..hoo..hee bukak sitik jozz"nya. Tidak di semua itu. Postur tubuhnya postur tubuh yang biasa saja tidak terdefinisi oleh karakter manapun. Begitulah saking biasanya Sheeva.

Pipinya yang agak gendut seperti bakpao hangat warna putih yang enak banget disantap untuk sarapan menyempurnakan kontur muka untuk menambah kegemasan-nasional. Gaya bicaranya yang santai dengan suara yang unik.

Yap, unik. Suaranya unik. Seperti halnya postur tubuh, suaranya pun tidak berkarakter. Tinggi tidak, rendah pun tidak. Atau sedang pun juga sepertinya tidak bisa dikaitkan. Hanya saja memang suaranya masuk ke dalam kategori halus, siapapun yang mendengarnya pasti berteriak dalam hati "Aduhh gemas sekali", hanya saja karena gengsi atau takut dinilai alay jadi hanya disimpan dalam hati saja.

Hanya seperti itu. Sangat biasa. Namun bagaimana bisa aku berbunga-bunga dengannya? Apa yang membuatku memiliki rasa suka terhadapnya? Seakan pilihan mencintai seseorang memang tidak bisa diputuskan sendiri. Seperti kata Sujiwo Tejo, kita bisa memutuskan menikah dengan siapa, namun tidak bisa memutuskan akan mencintai siapa. Jatuh cinta yang berlandaskan keegoisan alam dengan memutuskan dan memberi mandat untukku memiliki rasa suka terkesan sangat jahat. Bagaimana bisa aku menyukai orang yang biasa saja? Hal ini membuatku tidak dapat menjawab ketika ditanya alasan mengapa aku bisa jatuh cinta. 

Kalau begini kan jadi aku yang ribet.

Namun pada akhirnya, aku berhasil menjawab pertanyaan yang menghujamku kemarin lusa. Aku sudah mengetahui siapa itu seseorang dibalik komando sabotase. Selanjutnya hanya lebih mendekat dan lebih mengenal.

Yang pada akhirnya, satu langkah pertamaku berhasil.

Tercapai!

Namamu adalah Luisa Sheeva.

Cahaya yang mempesona.

Maka dari itu, akan aku buat cahaya itu terpancar darimu, seperti membuatmu tersenyum atau tertawa senang saat aku memberimu kado kecil kebahagiaan.

Akan aku nanti cahaya itu, Sheeva!

Mario Andaru

Mario Andaru

Warga sipil yang kebetulan suka ghibahin perekonomian Indonesia.

Posting Komentar