Kekalahan kemarin malam membuatku merinding dan menggigil bukan setengah mati lagi, namun sudah menjadi setengah hidup saking ngerinya peristiwa sabotase pikiran akal sehat yang tak seimbang melawan pasukan kompeni tak tahu peri-keakal-manusia-an.
Bagaimana bisa melawan ratusan bayangmu jika hatiku saja sudah lemah tak berdaya oleh pandangan tiap aku melihat bulu matamu?
Sudah gitu pikiranku malah tidak profesional dalam menjalankan tugas menjadi pimpinan organ tubuh yang seharusnya mengadakan rapat dadakan atas masalah yang dihadapi oleh tuan rumah ibu pertiwi; aku sendiri.
Kalau begini caranya yo aku yang klenger.
Maka dari itu hanya ada satu cara untuk melawanmu; lebih tepatnya menaklukanmu. Hati dan pikiran yang sudah tidak sinkron dan tidak bisa bekerja sama karena mungkin sudah lama tidak ada diklat atau training mengenai masalah jatuh cinta.
Zat yang akan kupanggil dan akan kupasrahi untuk melawanmu adalah zat yang diciptakan oleh diriku sendiri. Jika diriku kuat seperti baja kapal pesiar Titanic yang terkenal dengan lagu "Every night in my dream, i see you i feel you~" itu sudah pasti bisa menang menaklukan hati kecilmu yang mungil tersimpan bersama bermeter-meter pipa pengangkut darah. Namun, jika aku lengah tidak membelokkan kapal saat ada gunung es yang lancip, lebih lancip daripada bibirnya orang-orang yang iri dan dengki, sudah pasti aku akan tenggelam di lautan penasaran dan kekalahan. Selepas itu aku kedinginan oleh sorot mata yang memandangku si konyol tak berkutik. Hal yang hanya bisa aku lakukan hanya mencari potongan kayu untuk menjadi dasaranku agar tidak kedinginan oleh air laut samudera. Dan disaat itulah, nada dering yang tiba tiba muncul dari atas langit berbunyi dengan sangat kencang "Every night in my dream, i see you i feel you~".
Zat itu kuberi nama tekad. Sesuatu zat yang kuciptakan dengan kekuatan bergantung kepada pengguna dan pelaksana.
Tekad keberanian dalam mendekat .
Apabila memang langit-langit kamar dan pintu kamar tak bisa membantuku menemukan jawaban siapakah dirimu dan bagaimana bisa diriku terombang-ambing oleh ombak asmara dan rasa penasaran akan hadirnya seseorang, maka saatnya kucari jawaban itu bersama dengan tekad.
Kuatur suatu cara mendekat tanpa terlihat mendekati. Terkesan misterius dan bisa dicap seperti pria hidung belang jika kulakukan secara serampangan.
Kini kulancarkan serangan balik ke markas tepat dimana tali komando berada; dirimu satu-satunya.
Melihat situasi yang tepat, bagaimana membuatmu tertarik dengan obrolan hangat seperti saat menyantap roti kukus yang baru dihangatkan dari oven dengan secangkir teh hijau dengan asap yang masih berkepul-kepul memberikan kehangatan di pagi hari secara cepat.
Hari ini juga, disaat bintang-bintang Saur sedang bersiap merangkai rasi-rasinya, mengaitkan satu sama lain dengan saling berpegangan tangan agar tidak jatuh katanya. Karena apabila salah satu tali pegangan rasi itu jatuh nanti diantara kamu malah mengajukan permohonan yang bahkan malaikat pun butuh setidaknya satu rim kertas untuk mencatat permohonanmu yang lebih banyak daripada sumbangsihmu itu.
Yah, aku hanya ingin membantu para malaikat agar tidak perlu berlelah-lelah merekap data permohonan.
Di hari itu juga, ditemani oleh para rasi bintang membentuk pola Saur, sudah hampir jadi hanya mungkin lebih diperhalus lagi, aku bersama tekad yang sudah kubuat bulat dari bentuk persegi empat.
"Mulai hari esok, kujatuhkan rasa takutku pada tanah, meresaplah hingga ke inti bumi dan mencair menjadi magma. Tetaplah disitu beribu-ribu tahun lamanya hingga berada dalam dua pilihan; memberontak keluar melihat langit biru yang cerah disertai debu abu-abu yang membuat orang teriak dan berteriak evakuasi serta jari jemari orang orang sosmed yang mengajak ribuan orang berdonasi, lalu setelahnya mendingin-mengeras lalu berubah bentuk menjadi batu giok yang bakal diburu oleh pemburu batuan permata. Perlahan tapi pasti pemburu itu merobek-robek tubuhmu, lalu tubuhmu yang dirobek itu akan ditempa dan dihaluskan menggunakan mesin yang mungkin kamu belum pernah melihatnya di inti bumi, lalu tubuhmu yang sudah cantik mengkilat dibawanya ke pasar atau toko-toko pecinan sehingga banyak orang yang melihat detail tubuhmu yang bugil dengan melihat isi tubuhmu seakan menggoda mata.
atau
Kamu tetap berada dalam tanah, berada dalam inti bumi yang jauh dari keramaian. Tidak ada tempa, tidak ada mesin modern, tidak ada toko, pasar, orang-orang yang berlalu lalang teriak penawaran harga untuk tubuhmu yang sexy layaknya bisnis prostitusi. Tetap di inti bumi, tugasmu adalah menghangatkan isinya, atau menghangatkan orang-orang yang berada di atas entah itu penjahat atau orang yang sedang menjalin asmara, tentu saja kamu juga menghangatkan orang-orang yang berlalu lalang di toko batu giok juga!"
"Mulai hari esok juga, kutitipkan beberapa kepingan harga diri yang kunilai tinggi berdasarkan perspektif sendiri, bukan harga menurut grafik pemerintah karena tak ada badan perekonomian untuk mengatur seberapa harga diri seseorang yang pas untuk dijual.
Oh, aku lupa jika harga diri manusia tidaklah dijual. Namun sebagai patokan bahwa bagaimana sikap kita seharusnya terhadap beberapa peristiwa. Jika kita memiliki harga diri yang tinggi maka kita cenderung lebih sering gengsi, sebaliknya harga diri yang rendah sering diremehkan atau dipermainkan. Entahlah, tidak ada harga diri yang pas untuk suatu peristiwa umum. Harga diri bergerak seperti harga saham gorengan di bursa efek, naik turun tak menentu bergantung pada peristiwa apa yang sedang dialami oleh emiten.
Namun kebanyakan orang malah menjual harga diri tapi tidak mengakui bahwa dia sebenarnya menjual harga diri. Seperti misalnya 'ah, aku kan seorang yang berhasil menjuarai lomba memetik jambu, mengapa harus mau sama orang yang cuma bisa memetik daun pandan.'
Membandingkan, gengsi, atau perasaan sejenis yang menganggap dirinya lebih atau kurang dari orang lain adalah termasuk kegiatan jual-beli harga diri. Harusnya kalau memang tidak menjual harga diri bisa toh bilangnya 'Oh, kenapa kamu cuma bisa memetik daun pandan sedangkan aku adalah juarawan memetik jambu. Bagaimana kalau kamu jadilah juarawan memetik pandan, setelah itu mari kita berbincang lebih lama, lebih hangat, lebih dekat, dan lebih intim.'.
Bagaimana jika harga diriku aku titipkan pada beberapa pohon yang aku lewati? Mungkin pohon itu dapat menjaga harga diriku. Saat ini, aku harus tak memakai harga diri agar aku tidak tergoda gengsi. Tekadku lah yang saat ini mengisi singgasana rasa takut dan harga diri. Dan mulai sekarang, tekadku lah yang akan menguasai perkenalan itu!"
Jadi, bagaimana diriku? Sudah siapkah kamu menanyakan nama dan siapa?
