Andaikata, Hilang Kata

 


Andaikata, bahasa hanya alat bicara

Maka aku berdusta pun terasa ringan

Tanah yang retak tak lebih bahaya dari pikiran yang sesat

Kata yang longgar pun tak tahu bertanggungjawab ke siapa

Berhenti kemana jari ini menunjuk keyakinan

Selain pada jari yang menunjuknya? 

 

Andaikata, bahasa memudahkan dusta

Maka "nanti" akan menghilangkan waktu yang penuh pasti

"Nanti" bagiku bisa berarti sejam, tahunan, atau bisa berarti tidak pernah

"Nanti" dari aku, yang tak sempat ucap ini menjelaskan, lahirlah tubuh yang terbiasa mengkhianati kejujuran

 

Andaikata, aku lupa budaya

Maka aku meludahi kakiku yang berdiri di atas puisi terpanjang

Yang tak lagi kuhafal nadanya

La Galigo yang hanya nama, bahkan lebih panjang dari kisah Mahabarata, dan lebih tua dari banyak negara mapan

Serat Centhini; ensiklopedia, tubuh, pikiran, cinta, laku, dan proses pencarian Tuhan yang kucatat dengan keraguan 

Identitas harus minta izin pada zaman karena aku selalu bertanya "apakah ini relevan?"

Apakah identitas memiliki tanggal kedaluwarsa?

 

Andaikata, aku hanya belajar bicara

Maka bahasaku dilemahkan oleh pembiaran

Peringkat rendah aku pikirkan, karena aku belajar menjawab, bukan mempertanyakan

 

Andaikata, semua memang mitos belaka

Maka aku bertanya mengapa kita berbudaya

Mitos adalah kalimat bohong irasional atas bodohnya manusia pada zamannya

Aku lupa dan menghapus ingatan jika semua hanya simbol orang dulu

"Kencing pun dilarang di laut selatan!" Kata cerita

Maka, jika tubuhku tak boleh mencemari perairan, apalagi keserakahan yang tak tahu batasan?

Pohon tak ditebang karena dapat membuat kesurupan

Maka, oleh orang itu dipakaikan kain

Bukan disembah, bukan dipuja mati

Melainkan agar manusia tahu diri

Diingatkan jika hidup tidak untuk dieksploitasi

Budaya lama berbicara, dengan bahasa zamannya

Dan aku tidak tahu bagaimana cara memahaminya

 

Andaikata, aku tidak tahu berbahasa

Maka, kucaci "bencana alam" seolah bumi bersalah atas beton dan buta tulinya manusia

Aku "buang" seolah dunia ini punya ruang sisa dan hanya manusia yang punya

Kusebut "pemerintah" seolah negeri ini milik si tukang perintah

Kata membentuk sikap

Ia menjadi biasa dan mengaburkan etika dalam bercakap

 

Andaikata, bangsaku mampu menyebut diri

Maka, kepulanganku selalu menuju arah kembali. 

Mario Andaru

Mario Andaru

Warga sipil yang kebetulan suka ghibahin perekonomian Indonesia.

Posting Komentar